Senin, 26 Mei 2014

laporan fieldtrip tpi dpi

RINGKASAN

Daerah penangkapan ikan merupakan suatu daerah perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan tertangkap dalam jumlah yang maksimal dan alat tangkap dapat dioperasikan serta ekonomis. Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan.
Hal ini dapat diterangkan bahwa walaupun pada suatu areal perairan terdapat sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan tetapi alat tangkap tidak dapat dioperasikan yang dikarenakan berbagai faktor, seperti antara lain keadaan cuaca, maka kawasan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan demikian pula jika terjadi sebaliknya. Pengetahuan mengenai daerah penangkapan ikan meliputi kelimpahan, kepadatan stok, sifat fisik lingkungan, pola migrasi dan distribusi jenis-jenis ikan sangat penting, seperti daerah terumbu karang
















KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmatnya kepada kami untuk menyelesaikan laporan ini yang disusun berdasarkan daftar isi, laporan ini berisikan tentang pengenalan daerah penangkapan ikan dan teknologi penangkapan ikan di TPI Karangantu, dengan alat tangkap bagan sero.
            Dengan dibuatnya laporan praktikum ini diharapkan kepada pembaca mampu menyerap ilmu dan mengaplikasikannya dengan baik. Dalam hal ini, pembaca dapat memahami materi yang ada dalam laporan ini. Dengan demikian diharapkan tujuan intruksional yang ingin di capai dapat di peroleh secara maksimal mungkin.
Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu untuk memberikan masukan kepada saya mengenai laporan ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
            Sebelumnya saya berterima kasih kepada:
1.      Bapak Adi Susanto, S.Pi,. M.Si dan Dr. Ririn Irnawati selaku dosen pembimbing mata kuliah DPI dan TPI.
2.      Nelayan Karangantu atas informasi yang sangat penting untuk pengetahuan tentang daerah dan teknologi penangkapan ikan.
3.      Teman- teman yang sangat saya cintai terima kasih atas partisipasi dan kerjasamanya dalam kunjungan ke TPI Karangantu.
Kami menyadari bahwa laporan ini belum sempurna dan untuk itu kami mengharapkan masukan dari pembaca atau pihak lain. Semoga laporan ini dapat berguna bagi pembaca dan orang lain, kritik dan saran yang membangun selalu terbuka untuk perbaikan laporan ini.

Serang, Mei 2013



Penyusun


DAFTAR ISI

RINGKASAN ..................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2. Tujuan ................................................................................................ 2
BAB 2 METODOLOGI
            2.1. Waktu dan Tempat ............................................................................. 3
            2.2. Alat dan Bahan ................................................................................... 3
            2.3. Prosedur Kerja .................................................................................... 4
BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil ................................................................................................... 5
3.2. Pembahasan ........................................................................................ 7
BAB 4 KESIMPULAN
            4.1. Kesimpulan ......................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 10
LAMPIRAN ........................................................................................................ 11














BAB 1
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Indonesia mempunyai wilayah perairan sebesar 5,8 juta km2, yang terdiri dari 0,3 juta km2 laut teritorial, 2,8 juta km2 perairan nusantara dan 2,7 km2 zona ekonomi ekslusif. Sekitar 70 % wilayah Indonesia berupa laut dengan jumlah pulau lebih dari 17.000 dan garis pantai sepanjang 81.000 km. Oleh karena itu sumber daya pantai dan laut yang dimiliki Indonesia sangat besar baik yang non hayati seperti bahan tambang dan energi maupun hayati terutama ikan. Potensi sumber daya ikan (SDI) laut diperkirakan sebesar 6,26 juta ton/tahun yang terdiri dari potensi wilayah perairan Indonesia sekitar 4,40 juta ton/tahun dan wilayah Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) sekitar 1,86 juta ton/tahun.Selain itu di Indonesia juga memiliki berbagai ragam alat tangkap,salah satu yang sering digunakan untuk operasi penangkapan ikan oleh nelayan adalah alat jenis Gillnet dan Trammel net (Agusta,2009).
Suatu daerah dapat disebut sebagai daerah penangkapan ikan apabila ada interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan ikan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap  ikan. Keadaan suhu, salinitas, arus permukaan, upwelling dan front dapat mempengaruhi kehidupan ikan secara baik secara langsung maupun tidak langsung. Keadaan iklim dan cuaca juga dapat mempengaruhi kelimpahan ikan. Iklim dan musim akan mempengaruhi penyebaran ikan, sedangkan cuaca seperti terjadinya topan dapat mempengaruhi ruaya serta keberadaan ikan pada suatu daerah karena topan dapat menyebabkan terjadinya turbulensi. Ikan biasanya akan menghindari hal demikian karena sedimen laut yang terangkat dapat merusak filament insang ikan-ikan tersebut (Nomura, 1996).





Daerah penangkapan ikan merupakan suatu daerah perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan tertangkap dalam jumlah yang maksimal dan alat tangkap dapat dioperasikan serta ekonomis. Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan.
Hal ini dapat diterangkan bahwa walaupun pada suatu areal perairan terdapat sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan tetapi alat tangkap tidak dapat dioperasikan yang dikarenakan berbagai faktor, seperti antara lain keadaan cuaca, maka kawasan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan demikian pula jika terjadi sebaliknya. Pengetahuan mengenai daerah penangkapan ikan meliputi kelimpahan, kepadatan stok, sifat fisik lingkungan, pola migrasi dan distribusi jenis-jenis ikan sangat penting, seperti daerah terumbu karang (Nelwan, 2004) .
1.2    Tujuan
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu, untuk mengetahui cara kerja alat tangkap sero/bagan yang berada di daerah penangkapan Karangantu, untuk mengetahui jenis tangkapan utama dan sampingan dari alat tangkapan sero/bagan, dan untuk mengetahui pendapatan dari hasil tangkapan tersebut.













BAB 2
METODOLOGI
2.1.   Waktu Dan Tempat
Waktu dan tempat di laksanakannya praktikum fieldtrip bersama Teknologi Penangkapan dan Daerah Penangkapan Ikan  yang di laksanakan pada hari jumat sampai minggu, tanggal 10-12 Mei 2013, tepatnya dilaksanakan pada jam 19.00 – 08.00 wib. Mengenai alat tangkap sero yang di operasikannya di Kepulauan Banten, Karangantu, Serang Banten.
2.2.   Alat dan Bahan
            Alat dan bahan yang kita gunakan dalam pelaksanaan praktikum fieldtrip bersama mengenai alat tangkap sero yaitu, para nelayan menggunakan kapal KM. Prima sebagai alat transportasi dari darat ke lokasi sero yang bermuatan sekitar 5 GT. Dan menggunakan alat tambahan yaitu serokan untuk mengambil hasil tangkannya dari jaring sero. Bahan yang di gunakan pada jaring sero yaitu menggunakan jaring trawl dengan panjang ± 100 m, dan mengguanakan tambang untuk mengikat bambu-bambu pada kostruksi sero.  
Kontruksi alat tangkap Sero:
Prinsipnya alat tangkap ini terdiri 4 bagian penting yang masing-masing disebut : penajo (main fence), sayap (wing), badan (body), dan bunuhan (crib). Badan tersebut terdiri dari kamar-kamar (chamber). Banyaknya kamar-kamar bervariasi, tergantung dari ukuran sero. Untuk sero kecil umumnya terdiri 1-2 kamar, untuk ukuran sedang 3 kamar dan untuk sero besar 4 kamar. Panjang penajo bervariasi, tergantung besar kecilnya sero. Untuk sero berukuran besar panjang penajo dapat mencapai antara 300-500 meter. Bagian penajo yang dekat dengan badan sero ± 1 / 4 sampai 1/3 dipasang kere-kere dari bambu.
Kamar-kamar sero tersebut pada bagian depannya dipasang pintu-pintu dari kere bambu yang mudah ditutup dan dibuka pada waktu operasi penangkapan. Di samping bagian-bagian yang disebut penajo, sayap kiri/kanan dan bunuhan masih ada kelengkapan lain yang disebut sisir/ pengiring/pengangsan, sibu-sibu (scoop net).


2.3.  Prosedur Kerja
Praktikum fieldtrip kali ini metode praktikum yang kami lakukan yaitu langkah pertama para nelayan berangkat menuju tempat lokasi letaknya sero. Kemudian jaring kantong yang berada di sero terlebih dahulu di turunkan pada pukul 20.00, setelah kantong diturunkan para nelayan menunggu selama kurang lebih 24jam. Selama kurung waktu tersebut para nelayan ada yang memanfaatkan waktu untuk memancing dan ada juga sebagian nelayan memantau kantong sero dari sampah maupun ubur-ubur yang masuk dengan menggunakan serokan. setelah waktu tersebut nelayan mulai mengangkat jaring kantung dan mengambil ikan dengan menggunakan serokan, lalu hasil tangkapan dimasukan kedalam bak. Setelah semua hasil peangkapan sudah terangkat semua, nelayan melalukan penyortiran sesuai dengan jenis ikan ataupun cumi-cumi. Setelah itu para nelayan kembali pulang untuk menjual hasil tangkapan kepada tengkulak. Cara ikan terperangkap pada alat tangkap sero yaitu, terjebak pada penajo atau sebagai penghalang (penghalau) perjalanan ikan. Sifat ikan umumnya berenang menelusuri pantai dan bila berpapasan dengan penajo ia cenderung akan membelok dan berenang menelusuri penajo ke arah tempat yang lebih dalam dan akhirnya terperangkap masuk ke kamar-kamar sero dan terakhir sampai ke bagian bunuhan (crib) dan terperangkaplah. Bagian sayap atau kaki berfungsi sebagai penghalang atau tepatnya berfungsi untuk mempercepat jalannya ikan masuk ke dalam badan atau kamar-kamar sero.











BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.3.   Hasil
Ø  Spesifikasi alat tangkap
Nama : Sero
Bahan : Jaring trawl dan bambu
Harga/unit : 5 juta
Dimensi : Panjang 100 m, lebar 5 m
http://3.bp.blogspot.com/-oZOlxb0NOKg/TdaNZqytIbI/AAAAAAAAAFA/tfXHOZeYs7g/s320/SERO.pngDetail kontruksi : sero terbuat dari bambu dan jaring sebagai kantong dengan panjang 5-6 m, dengan jaring kantong hingga 100 m, dan tali temali untuk mengikat.
Umur teknis : 10 -20 tahun
Gambar alat :









Ø  Armada penangkapan
Nama kapal : KM Prima
Ukuran : LOA = 12 m, B = 2 m, D =  1,5 m
Bahan : Kayu meranti
Harga : 25 juta
Umur teknis : 8 tahun
Mesin : Dongpeng
Mesin utama : 24 pk, merk : dongpeng, harga : 5 juta
Mesin bantu : -

Ø  Metode Operasi
Jumlah trip/bulan : 30hari
Jumlah setting dan houling : 1 kali
Jumlah ABK : 6 orang
Teknis penangkapan : -
Deskirpi pengkapan :
Sero dipasang menetap di perairan, tak jauh dari daratan, prinsip pengoprasian nya dalah memotong jalur migrasi ikan. Ikan akan tergiring oleh penaju menuju jaring kantong, dan kalau sudah masuk kantong, kemungkinan besar tidak bisa meloloskan diri.
Ø  Alat bantu penagkapan
Jenis alat bantu : sero / seser
Jumlah : 1
Harga : 50 ribu
Ø  Hasil tangkapan
Cumi – cumi                            100 kg                         25 ribu/kg
Sotong                                     2-4 kg                          13 ribu/kg
Kembung manjar                     90 kg                           12 ribu/kg
Rebon                                      10 kg                           1500/kg
Rata rata hasil tangkapan
Segar : 100 kg
Sebagian rusak : -
Rusak : -
Ø  Daerah dan musim penagkapan
Daerah penagkapan : Telub Banten, daerah pesisir pantai pontang
Lama menuju DPI : 1,5 Jam
Proses penentuan DPI : Melihat arus dan kekuatan felling
Musim penagkapan :
Puncak : april, mei, juni, juli, agustus
Sedang : september, oktober, november, desember
Paceklik : januari, februari, mart
Ø  Analisis ekonomi
Pendapatan
Penjualan hasil trip : 100 – 200 ribu/hari
Sistem pemasaran : tengkulak
Sistem bagi hasil : 100 ribu, 25 % untu kapal, 75 % untuk nelayan
Ø  Pengeluaran
Solar : 10 liter/ trip harga 1liter Rp. 5000
Konsumsi : masing masing
Retribusi : -
3.4.   Pembahasan
Spesifikasi alat tangkap
Sero adalah perangkap yang biasanya terdiri dari susunan pagar-pagar yang akan menuntun ikan-ikan menuju perangkap. Sero juga disebut banjang, bila, belat, seroh, kelong.
Bahan jaring PE multifilamen, pembuatannya itu membutuhkan dana sebesar 5 juta, ukuran nya 5-6 meter sedangkan panjang karing kantong itu 100 meter, umut alat tangkap ini bisa mencapai 10 – 20 tahun, dengan perawatan, seperti mengganti bambu yang sudah keropos.
Ø  Armada penangkapan
Kapal yang bernama KM Prima, dengan LOA 12 meter ini, yang terbuat dari kayu meranti, kuat hingga 8 tahun. Dengan satu mesin utama yaitu ukuran 24 pk, merknya Dongfeng, harga nya 5juta /unit mesin.
Ø  Metode operasi
Sero melakukan setting dan haoling sekali dalam sehari, jadi jumlah trip perbual itu 30 hari, dengan jumlah ABK 6 orang. Sero prinsip pengoprasinnya itu menghadang migrasi dan jalur ruaya ikan.
Ø  Alat bantu penagkapan
            Alat bantu yang digunakan di alat tangkap sero ini yaitu sero atau seser untuk mengambil hasil tangkapan didalam kantong. Dengan harga satu sero ini harganya sebesar Rp. 50 000.


Ø  Hasil tangkapan dominan
Cumi – cumi bisa di dapat 100kg per bulan, dengan harga /kg itu sekitar Rp. 25ribu, sedangkan sotong itu 2-4 kg, dengan harganya, Rp. 13ribu, kembung banjar, 100 kg/bulan, harga /kg itu sekitar, 12ribu, sedangkan untuk rebon itu 10 kg, dengan harga /kg nya itu Rp. 1500 rupiah. Dengan rata rata hasil tangkapan itu sekitar 100 kg, dengan kwalitas 100% masih segar.
Ø  Daerah pengkapan ikan
Daerah pengakapan sero di karangantu itu masih di teluk Banten persisnya di daerah pesisir pantai potang, sekitar 1-2 Km dari bibir pantai, untuk menentukan DPI nya, itu melihat dari aru dan kekuatan feeling nelayan bahwa di sana itu jalur migrasi ikan. Untuk musim juga mempengaruhi hasil tangkapan.
Ø  Analisis ekonomi
Hasil tangkapan ikan, langsung di jual di tengkulak, hasil tangkapan di timbang dan di bayar tunai oleh tengkulak tersebut, rata – rata perhari nelayan bisa mendaapatkan Rp. 100 – 200 rbu, dengan sistem bagi hasil dari Rp. 100ribu, 25 % nya untu kapal, dan 75 % nyan untuk nelayan.
Pengeluarannya nelayan setiap kali trip menghabiskan 10 liter solar, dan harga /satu liternya itu Rp. 5000. Jadi setiap trip nelayang mengeluarkan sebesar Rp. 50000, paling menambah ganti bambu yang rusak an membenarkan jaring yang bolong.












BAB 4
KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan
Hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, prinsip penagkapan atau kerja sero adalah dengan cara menghadang migrasi ikan, itu setting dan houling nya itu sehari satu kali. Untuk jenis tangkapan utama sero di karangantu ini adalah cumi –cumi, sorong, balakutak, dan kembung manjar, sedangkan hasil tangkapan sampingannya yaitu, seperti rebon, kan rucah, ikan layur, ikan pari, dan sumbilang karang. Untuk penghasilan para nelayan sekali trip itu sekitar Rp. 100 – 200ribu, dengan pengeluarannya Rp. 50ribu untuk solar dan bagi hasilnya itu 25 % untuk kapal.




















DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 1964. Daerah Penagkapan Ikan. Jakarta : Djambatan
Hadioetomo, RS. 1993. Teknologi Penagkapan Ikan: Teknik dan prosedur dasar laboratorium. Gramedia pustaka utama. Jakarta.
Suriawiria, U. 2005. Set Net. Papas Sinar Sinanti, Jakarta
Zubaidah, Elok. 2006.Alat Tangkap Sero. Universitas Brawijaya. Malang






















LAMPIRAN









Gambar 1. Proses menyeleksi ikan                              Gambar 2. Hasil tangkapan








Gambar 3. Bagian kantong sero                          Gambar 4. proses penyerokan ikan







Gambar 5. Tangkapan utama sero                         Gamabar 6. proses perawatan alat




Tidak ada komentar:

Posting Komentar